Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Februari 2010

Tiga Kakek Sakti





Tiga orang kakek sedang berteduh di dalam sebuah gubug menunggu hujan reda. Setelah sekian lama ditunggu, bukannya mereda hujan malah menjadi semakin lebat. Ketiga kakek tersebut menjadi kedinginan dan berusaha menghangatkan tubuh mereka dengan menggosok-gosokkan tangan.

Untuk menghilangkan kejenuhan, seorang kakek, sebut saja Kakek Kumisan karena memiliki kumis yang sangat lebat sekali, mengeluarkan sebungkus rokok. Ternyata rokok yang dikeluarkannya adalah rokok khas anak muda yang lagi in saat ini. Super Mild. Walaupun sudah tua, ternyata Kakek Kumisan masih berjiwa muda. Rokoknya tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah adalah api untuk menyalakan rokok tersebut. Kedua kakek sahabatnya yaitu Kakek Berewokan dan Kakek Jenggotan juga tidak membawa korek api.


Jangan panggil Kakek Kumisan kalau masalah kecil begini saja sudah kehabisan akal. Dia mengarahkan ujung rokoknya ke tetesan air hujan. Tanpa disangka tanpa diduga. Ketika air yang menetes itu bersentuhan dengan ujung rokok, tiba-tiba rokok tersebut terbakar dan menyala. Kakek Kumisan terkekeh-kekeh begitu melihat rokoknya sudah menyala. Sambil cengar-cengir dia mengisap rokoknya sambil menoleh kearah dua kakek sahabatnya.

Melihat apa yang telah dilakukan oleh Kakek Kumisan, kakek Berewokan juga tidak mau kalah. Dia lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam sakunya. Jamur Super. Ternyata dia juga seorang kakek yang berjiwa muda. Rokoknya tak kalah dengan anak muda yang juga lagi ngetrend saat ini. Dia lalu mengacungkan rokoknya ke luar gubug dan akhirnya tersiram oleh hujan yang deras. Tanpa disangka-sangka dan tanpa diduga-duga, muncullah petir dengan suara yang menggelagar langsung menyambar rokok Kakek Berewokan. Suasan digubug itu menjadi gempar sekali. Bau hangus terbakar santer di udara. Di balik asap yang perlahan mulai sirna, terlihatlah Kakek Berewokan sedang nikmat mengisap rokoknya sambil cengar-cengir. Asap rokoknya Jamur Super-nya membumbung dengan indah ke udara.

Kakek yang ketiga, Kakek Jenggotan mengelus-elus jenggotnya. Menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan kehebatan dua orang sahabatnya itu. Matanya kemudian terpejam merem-melek seperti sedang berpikir apa yang harus dilakukannya. Beberapa saat kemudian, matanya terbuka, dengan senyum sumringah dia merogoh sakunya. Lalu tangannya ke luar menggenggam sebatang rokok. Bukan sebungkus rokok saudara-saudara. Hanya sebatang. Walaupun cuma sebatang tapi bukan rokok sembarangan.

Kakek Jenggotan memegang sebuah rokok Cuba. Rokok favorit mafia yang segede alaihim itu. Meskipun tampangnya berkharisma dengan jenggot putih mengkilat yang luar biasa, kalau masalah rokok tidak kalah dari siapapun. Tidak tanggung-tanggung, rokoknya rokok mafia kelas Internasional. Barangkali Kakek Jenggotan terkena imbas dari game Mafia Wars yang ada di Fesbuk itu. Dua kakek yang lain terbelalak. Menyaksikan rokok kakek jenggotan yang dahsyat full ini. Mereka ternganga sehingga tidak sadar rokok mereka telah tertelan. Glegh..

Supaya suasana lebih meriah, secara dramatis Kakek Jenggotan mencium-cium wangi rokoknya dari ujung-ke ujung. Kedua sahabatnya menelan ludah ingin juga melakukan hal itu. Lalu Kakek Jenggotan dengan elegan mencelupkan rokoknya ke dalam gelas yang berisi air minum di hadapannya. Rokok pun amblas masuk ke dalam air. Sesaat kemudian, rokok ditarik kembali dan keluar dari dalam air. Apa yang terjadi saudara-saudara? Rokok tersebut tidak basah oleh air sama sekali. Hebatnya rokok tersebut sudah menyala. Dengan lebih demonstratif Kakek Jenggotan menghisap rokoknya dengan nikmat sambil merem-melek. Jenggotnya yang putih dan mengkilap luar biasa tidak lupa dielus-elusnya. Akhirnya ketahuanlah, siapa yang lebih sakti di antara mereka bertiga.

Dai cerita ini, kita dapat mengambil pelajaran. Dari Kakek Kumisan kita belajar untuk menunggu. Menunggu kesempatan dating. Hal ini diibaratkan dengan air hujan. Air hujan itu ditunggunya untuk menyalakan rokok. Ketika hal yang ditunggu-tunggu telah tiba, barulah dia dapat mengambil manfaatnya. Sehingga kesuksesan dapat diraih.
Kakek Berewokan mengajarkan kita untuk bisa memanfaatkan kesempatan yang hanya sekilas untuk meraih kesuksesan. Begitu ada kesempatan langsung diambil, tidak boleh terlewatkan. Untuk menjadi seperti Kakek Berewokan, kita harus selalu aktif dalam mencari setiap kesempatan.

Sedangkan Kakek Jenggotan memberikan pelajaran kepada kita supaya bias memanfaatkan apa yang ada, tanpa harus menunggu dan memanfaatkan kesempatan yang sekilas. Jadi kita harus selalu bergerak aktif dan dinamis untuk mencapai kesuksesan.
Jika kita kombinasikan ketiga “kesaktian” ini, kita bias mendapatkan kesuksesan yang luar biasa, yaitu dengan memanfaatkan potensi yang kita miliki secara aktif dan dinamis, sungguh-sungguh, sambil menunggu adanya kesempatan, kemudian memanfaatkan kesempatan yang hanya sekilas itu untuk meraih kesuksesan.
Continued »»

Minggu, 16 November 2008

25 NASIHAT LUQMAN AL-HAKIM



Luqman Al Hakim adalah seorang sosok ayah teladan sepanjang zaman. Keteladannya ini diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Quran. Dengan apa yang telah diterangkan oleh AL-Quran berhubung dengan Luqman Al-Hakim para ulama telah memperincikan lagi perbicaraan Luqman dengan anak-anaknya. Menurut satu riwayat dalam kitab Tafsir Ruhul Ma'ani dan Kitab Hidayatul Mustarsyidin bahwa Luqman telah memberikan anaknya dua puluh lima wasiat yaitu :

1. Hai anakku, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam dan banyak manusia yang karam di dalamnya. Bila engkau ingin selamat, agar jangan karam, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama takwa, isinya ialah iman dan layarnya ialah tawakkal kepada Allah.
2. Orang-orang yang sentiasa menyediakan dirinya untuk menerima nasihat, yakin dirinya akan
mendapat penjagaan daripada Allah S.W.T. Orang yang insaf dari kesalahan setelah menerima
nasihat daripada orang lain, dia akan sentiasa menerima kemuliaan dari Allah S.W.T. jua.
3. Hai anakku! Orang yang merasa dirinya lebih rendah di dalam beribadah dan taat kepada Allah, maka orang itu akan sentiasa tawadhuk kepada Allah, dia akan lebih dekat kepada Allah dan senantiasa menghindarkan dirinya daripada melakukan maksiat.
4. Hai anakku! Seandainya orang tuamu memarahimu, maka marahnya itu sebagai siraman air bagi tanam-tanaman yang kering kontang.
5. Jauhilah dirimu dari berhutang, karena sesungguhnya berhutang itu akan menjadikan dirimu hina di waktu siang dan hina di waktu malam.
6. Dan selalulah berharap kepada Allah tentang sesuatu yang menyebabkan kamu menderhaka.
Takutlah kepada Allah dengan benar-benar takut, tentulah engkau akan terlepas dari sifat putus
asa dari rahmat Allah S.W.T.
7. Hai anakku! Seseorang pendusta itu akan lepas hilang air mukanya karena tidak dipercayai orang, dan seseorang yang telah rusak akhlaknya akan sentiasa memikirkan dan mengkhayalkan perkara-perkara yang tidak benar. Ketahuilah bahwa memindahkan batu besar yang berat dari tempat asalnya adalah lebih mudah daripada memberi pengertian kepada orang-orang yang tidak mau mengerti.
8. Hai anakku! Engkau telah merasakan betapa beratnya mengangkat batu yang besar dan besi yang amat berat, tetapi adalah lebih berat daripada itu semua apabila engkau mempunyai jiran tetangga yang jahat.
9. Hai anakku! Janganlah sekali-kali engkau mengirimkan utusan melalui orang bodoh dan jahat.
Maka bila tidak ada orang yang baik dan cerdik, sebaiknya engkau sendiri sajalah yang menjadi
utusan.
10. Jauhilah sejauh-jauhnya sifat berdusta, sebab berdusta itu ketika sekali mengerjakannya bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit sahaja perbuatan dusta yang dilakukan akibatnya dan bahayanya amat besar.
11. Hai anakku! Bila engkau menghadapi dua pilihan, menziarahi orang mati atau menghadiri majlis perkawinan, maka hendaklah engkau memilih menziarahi orang mati. Sebab menziarahi orang mati itu akan mengingatkan kamu kepada akhirat, sedangkan menghadiri majlis perkawinan ituhanyalah akan mengingatkan kamu kesenangan duniawi saja.
12. Janganlah engkau makan atau minum yang berlebihan, karena sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu akan merusakkan diri dan pemikiranmu, dan alangkah baiknya makanan yang lebih itu diberikan kepada anjing saja.
13. Hai anakku! Janganlah engkau menelan terus sesuatu makanan karena manisnya, dan janganlah terus engkau memuntahkan sesuatu barang karena pahitnya. Karena manis itu belum tentu mendatangkan kesegaran dan belum tentu yang pahit itu mendatangkan musibah.
14. Makanlah makananmu bersama-sama orang yang takwa, dan musyawarah segala urusanmu
dengan para alim ulama dengan cara memohon nasihat daripadanya.
15. Hai anakku! Bukanlah suatu kebaikan namanya apabila engkau selalu mencari ilmu tetapi tidakengkau mengamalkannya. Hal itu tidak ubahnya seperti orang yang mencari kayu api, setelah banyak terkumpul maka dia tidak mampu memikulnya padahal dia masih terus
mengumpulkannya.
16. Hai anakku! Apabila engkau ingin mencari teman sejati, maka ujilah terlebih dulu dengan perkara yang menaikkan kemarahannya. Bilamana dalam kemarahan itu dia masih berusaha untuk menginsafkan engkau, maka bolehlah engkau ambil sebagai kawan, dan sekiranya bukan demikian maka berhati-hatilah engkau terhadapnya.
17. Perbaikkanlah tutur katamu, halus budi bahasamu dan manis wajahmu, karena engkau akan
disukai orang yang melebihi sukanya terhadap orang lain yang pernah memberikan barang yang
berharga kepadanya.
18. Hai anakku! Apabila engkau berteman, jadikanlah dirimu orang yang tidak pernah mengharapkan daripadanya. Namun biarlah dia mengharapkan sesuatu daripadamu.
19. Jagalah dirimu dalam setiap perkara sebagai seorang yang tidak berhajatkan kepada pujian atau sanjungan dari orang lain, karena penguasaannya itu akan menyebabkan diri kamu beroleh.
20. Hai anakku! Usahakanlah agar mulutmu jangan mengeluarkan kata-kata busuk, kotor dan kasar karena engkau akan lebih selamat apabila berdiam diri. Kalau berbicara, usahakanlah agar dirimu akan mendatangkan manfaat kepada orang lain.
21. Hai anakku! Janganlah engkau cenderung kepada dunia semata-mata dan hatimu jangan
disibukkan dengan urusan dunia semata-mata, karena engkau diciptakan Allah bukannya untuk
urusan dunia sahaja. Tidak ada orang yang lebih hina melainkan orang yang terpedaya dengan
dunia semata-mata.
22. Hai anakku! Janganlah engkau terlalu mudah ketawa kalau bukan perkara yang menggelikan, jangan engkau berjalan tanpa tujuan pasti, janganlah engkau menanyakan sesuatu yang tidak ada gunanya bagi diri kamu dan janganlah engkau mensia-siakan harta dunia kamu.
23. Barangsiapa yang penyayang, sudah tentu akan disayang, siapa yang suka berdiam diri sudah tentu akan selamat daripada berkata-kata tentang perkara yang mengandungi racun, dan barangsiapa yang tidak mampu menahan lidahnya daripada berkata kotor, sudah tentu akan menyesal.
24. Hai anakku! Bergaul mesralah dengan orang alim dan berilmu. Perhatikanlah kata-kata dan
nasihatnya karena sesungguhnya akan sejuk hati kamu mendengar nasihatnya, hiduplah hati ini
dengan cahaya hikmah dari mutiara kata alim ulama bagaikan tanah yang subur disirami air hujan.
25. Hai anakku! Ambillah harta dunia sekadar keperluanmu, dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk akhirat. Jangan engkau tendang dunia ini ke bakul sampah, kelak diri kamu akan menjadi
pengemis yang membebankan orang lain. Sebaliknya jangan engkau rangkul dunia ini dan
meneguk habis karena sesungguhnya semua yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah
belaka. Jangan engkau bertemankan orang bodoh dan orang yang bermuka dua, karena akan
aniayakan diri kamu.
Ibnu Abas berkata bahwa Rasulullah bersabda :
"Sesungguhnya orang yang paling pedih seksaannya pada hari kiamat adalah orang yang membunuh nabi atau orang yang dibunuh oleh nabi atau membunuh seorang daripada ibu bapanya dan pembuat patung serta orang berilmu yang tidak mendapat manfaat daripada ilmunya." - (Riwayat Baihaqi).

Continued »»

Selasa, 11 November 2008

Membayar Harga Sebuah Cita-cita


Mari belajar dari kisah pengembaraan Jenderal Sun Tzu. Bertahun-tahun mengembara, Sun Tzu telah mengalami banyak sekali kejadian. Ia pernah menjadi budak, pelayan, pedagang, prajurit, bahkan menjadi pejabat pemerintahan. Pahit getirnya kehidupan dia jalani demi sebuah cita-cita, demi sebuah karir. Berbekal pengalaman itulah akhirnya Sun Tzu berhasil menyelesaikan karya tulisnya, yaitu 13 Bab Strategi Perang.

Apa yang bisa dipetik dari pengalaman perjalanan Sun Tzu itu? Makna dari pengembaraan Sun Tzu itu adalah,
seseorang boleh mengalami pahit getirnya perjalanan hidup. Tetapi dia tidak boleh berhenti dan tidak boleh kehilangan tujuannya semula. Tidak boleh kehilangan arah cita-citanya. Tidak boleh kehilangan impiannya.

Jadi, kita harus berani membayar harga dari sebuah cita-cita yang besar. sebab cita-cita selalu membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Selain perjuangan dan pengorbanaan, cita-cita besar membutuhkan ketekunan, keuletan, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang luar biasa.

Cita-cita yang besar adalah cita-cita yang sanggup memberi kekuatan luar biasa kepada seseorang untuk menjalani hidup yang keras. Sebuah impian yang pasti mempunyai suatu titik target yang pantas dikejar. Cita-cita besar tidak mungkin dicapai hanya dengan target kecil serta usaha yang biasa-biasa saja. Cita-cita besar, impian besar, harus diraih melalui target-target yang menggairahkan. Target yang mendorong kita mengerahkan seluruh daya upaya kita. Target yang mampu menyemburkan hasrat sangat kuat untuk meraihnya. Membuat kita berusaha sekeras-kerasnya. Bahkan membuat kita berani memaksa diri kita sampai target itu tercapai.

Sebab seperti kata-kata mutiara yang saya tuliskan; "Jika kita keras di dalam, maka kehidupan akan lunak kepada kita. Sebaliknya, jika kita lunak di dalam, maka kehidupan akan begitu keras kepada kita". Cita-cita yang besar tidak bisa diraih dengan sikap mental yang lunak.

www.andriewongso.com

Continued »»

Template by:
Free Blog Templates